Tuesday, October 21, 2014

Design Grafis : Definisi dan Sejarah Perkembangan Design Grafis

Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. disain grafis diterapkan dalam disain komunikasi dan fine art. Seperti jenis disain lainnya, disain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metode merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), ataupun disiplin ilmu yang digunakan (desain).

Kata Desain Grafis pertama kali digunakan pada tahun 1922 di sebuah esai berjudul New Kind of Printing Calls for New Design yang ditulis oleh William Addison Dwiggins, seorang desainer buku Amerika. 
Raffe's Graphic Design, yang diterbitkan pada tahun 1927, dianggap sebagai buku pertama yang menggunakan istilah Desain Grafis pada judulnya The signage in the London Underground adalah contoh desain klasik pada abad modern yang menggunakan jenis huruf yang dirancang oleh Edward Johnston pada tahun 1916. 

Pada tahun 1920, Aliran konstuktivisme di Uni Soviet melihat seni yang berorientasi individu tidak ada gunanya bagi Rusia dan membuat sesuatu yang dapat diterapkan di dunia nyata. Mereka mendesain bangunan, perangkat teater, poster, kain, pakaian, perabot, logo, menu, dll.
Jan Tschichold merumuskan prinsip-prinsip dasar tipografi modern pada tahun 1928 dalam bukunya yang berjudul New Typography. Tschichold, Bauhaus,Herbert Bayer and Laszlo Moholy-Nagy, and El Lissitzky adalah tipografer yang berpengaruh besar dalam ilmu desain grafis yang kita kenal sekarang ini. Mereka mempelopori teknik produksi yang digunakan sepanjang abad ke 20. Pada tahun-tahun berikutnya desain grafis mendapat banyak pengakuan dan mulai banyak diterapkan. Pasca Perang Dunia II, kebutuhan akan desain grafis meningkat pesat, terutama untuk periklanan dan kemasan produk. Perpindahan Sekolah Bauhaus dari Jerman ke Chicago pada tahun 1937 membawa pengaruh besar pada desain di Amerika. Nama- nama yang terkenal diantaranya Adrian Frutiger(desainer jenis huruf Univers dan Frutiger), Paul Rand(yang dari akhir 1930-an sampai kematiannya pada tahun 1996 menggunakan prinsip Bauhaus dan menerapkannya padaiklan dan desain logo.

Pada tahun 1447, Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman, untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa. Tahun 1450 Guterberg bekerjasama dengan pedagang dan pemodal Johannes Fust, dibantu oleh Peter Schoffer ia mencetak “Latin Bible” atau disebut “Guterberg Bible”, “Mararin Bible” atau “42 line Bible” yang diselesaikanya pada tahun 1456. Temuan Gutenberg tersebut telah mendukung perkembangan seni ilustrasi di Jerman terutama untuk hiasan buku. Pada masa itu juga berkembang corak huruf (tipografi). Ilustrasi pada masa itu cenderung realis dan tidak banyak icon. Seniman besarnya antara lain Lucas Cranach dengan karyanya “Where of Babilon”

Pada perkembangan berikutnya, Aloys Senefelder (1771-1834) menemukan teknik cetak Lithografi. Berbeda dengan mesin cetak Guterberg yang memanfaatkan tehnik cetak tinggi, teknik cetak lithografi menggunakan tehnik cetak datar yang memanfaatkan prinsip saling tolak antara air dengan minyak. Nama lithografi tersebut dari master cetak yang menggunakan media batu litho. Tehnik ini memungkinkan untuk melakukan penggambaran secara lebih leluasa dalam bentuk blok-blok serta ukuran besar, juga memungkinkan dilakukannya pemisahan warna. Sehingga masa ini mendukung pesatnya perkembangan seni poster. Masa keemasan ini disebu-sebut sebagai “The Golden Age of The Poster”. Tokoh-tokoh seni poster tehnik lithogafi (1836-1893) antara lain Jules Cheret dengan karya besarnya “Eldorado: Penari Riang” (1898), “La Loie Fuller: Penari Fuller” (1897), “Quinquina Dubonnet” (1896), “Enu des Sirenes” (1899). Tokoh-tokoh lainya antara lain Henri de Toulouse Lautrec dan Eugene.


Pada saat ini perkembangan teknologi desain grafis sudah sangat maju dengan adanya peralatan dan media digital yang serba canggih. Sesorang tidak harus pandai dalam seni melukis untuk bisa membuat sebuahkarya desain grafis. Misalnya dengan media komputer, manusia bisa membuat sebuah hasil karya desain grafis dengan mudah dan sekaligus bisa langsung mencetaknya mulai dari ukuran yang paling kecil hingga super besar dengan mesin cetak yang canggih. Dengan berbagai software editor desain, juga semakin memudahkan manusia.

Sejarah Desain Grafis di Indonesia
Perkembangan desain di Indonesia di mulai pada tahun 1970, dimana pada saat itu telah terjadi peristiwa yang diberi nama Desember Hitam, peristiwa ini pecah di penghujung tahun 1974. Desember Hitam muncul karena adanya gelombang protes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada lima pelukis, yang karyanya dikritisi sebagai bercorak ragam sama (seragam) yaitu dekoratif, dan lebih mengabdi kepada kepentingan ‘konsumtif’. 
Gerakan Desember Hitam adalah awal terbentuknya gerakan seni rupa baru GSRB pada tahun 1975, GSRB memiliki pemahaman bahwa kesenian tidak harus dikategorikan menurut jenjang, ada kesenian kelas wahid dan ada kesenian kelas bawah (amatir). GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun dianggap sederajat. Sepanjang perjalanannya (1975-1979, 1987), eksponen GSRB yang juga desainer grafis tercatat antara lain FX Harsono, Syahrinur Prinka (1947-2004), Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, Gendut Riyanto (1955-2003), Harris Purnama dan Oentarto.

Organisasi desain grafis pertama di Indonesia, sepanjang tahun 1970 bermunculan perusahaan desain yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis, namun perbedaannya pada masa itu adalah biro-biro ini memfokuskan diri pada desain non-iklan dan semuanya berlokasi di Jakarta, berikut adalah beberapa biro desain tersebut  : 

Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos Indonesia (Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, S Prinka), Citra Indonesia (Tjahjono Abdi, Hanny Kardinata) dan GUA Graphic (Gauri Nasution). Dan pada dekade berikutnya, di Jakarta muncul antara lain Gugus Grafis (FX Harsono, Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan Ramelan, Djodjo Gozali), Headline (Sita Subijakto), BD+A (Irvan Noe’man), dan di Bandung: Zee Studio (Iman Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Grafik (Markoes Djajadiningrat), Studio “OK!” (Indarsjah Tirtawidjaja) dan lain-lain.

Graphic design is a form of visual communication that uses images to convey information or messages as effectively as possible. In graphic design, the text also considered the image as a result of abstraction of symbols that can be sounded. graphic design is applied in communication design and fine art. As with other types of design, graphic design can refer to the process of creating, designing methods, the resulting product (design), or a discipline that is used (design). 

Graphic Design word was first used in 1922 in an essay entitled New Kind of Printing Calls for New Design, written by William Addison Dwiggins, an American book designer. 
Raffe's Graphic Design, published in 1927, is regarded as the first book to use the term in the title of Graphic Design The signage in the London Underground is a classic design example of the modern age in the font designed by Edward Johnston in 1916. 

In 1920, in the Soviet Union konstuktivisme flow arts-oriented individuals see no use to Russia and make something that can be applied in the real world. They design buildings, the theater, posters, fabrics, clothes, furniture, logos, menus, etc. 
January Tschichold formulate the basic principles of modern typography in 1928 in his book, New Typography. Tschichold, Bauhaus, Herbert Bayer and Laszlo Moholy-Nagy, and El Lissitzky was a typographer who have a big impact in the science of graphic design as we know it today. They pioneered production techniques were used throughout the 20th century In the following years graphic design gets a lot of recognition and widely applied. Post World War II, the need for graphic design significantly improved, especially for advertising and product packaging. The transfer of the German Bauhaus School to Chicago in 1937 brought a major influence on the design in America. Famous names include Adrian Frutiger (designer Univers and Frutiger typeface), Paul Rand (who from the late 1930s until his death in 1996 using the principles of the Bauhaus and applied padaiklan and logo design. 

In 1447, Johannes Gutenberg (1398-1468) discovered the print engine technology that can be driven by pressure models like design that is used in Rhineland, Germany, to produce wine. This is a revolutionary development that allows the mass production of books at low cost, which is part of the explosion of information on the back of Europe. 1450 Guterberg cooperate with traders and investors Johannes Fust, assisted by Peter Schoffer he scored a "Latin Bible" or so-called "Guterberg Bible", "Mararin Bible" or "42 line Bible" which diselesaikanya in 1456 the Gutenberg findings have supported the development of illustration art in Germany especially for book decoration. At that time also the developing pattern of letters (typography). Illustration of the day and not much inclined realist icon. Artist Lucas Cranach the magnitude among others with his "Where of Babylon" 

In the next development, Aloys Senefelder (1771-1834) found the printing technique of lithography. In contrast to the print engine Guterberg technique that utilizes high printing, lithography printing techniques using flat printing technique which utilizes the principle of mutual repulsion between water and oil. The lithography name of the master print using litho stone media. This technique allows for a more flexible representations in the form of blocks and large sizes, also allows for color separation. So this time support the rapid development of poster art. This Golden Age disebu touted as "The Golden Age of the Poster". Figures lithogafi poster art techniques (1836-1893), among others, Jules Cheret with his masterpiece "Eldorado: Dancer Carefree" (1898), "La Loie Fuller: Fuller Dancer" (1897), "Quinquina Dubonnet" (1896), "enu des Sirenes "(1899). Other figures, among others, Henri de Toulouse Lautrec and Eugene. 


At this time the development of graphic design technology is very advanced with the equipment and sophisticated digital media. Someone does not have to be good at the art of painting in order to make sebuahkarya graphic design. For example, the computer media, people can create a work of graphic design and also can easily print directly from the smallest size up to super large with sophisticated printing machines. With a variety of software design editor, is also getting easier for humans. 

History of Graphic Design in Indonesia 
Design development in Indonesia began in 1970, at which time the event has occurred that is named Black December, this event broke out in late 1974. Black December arise because of the wave of protests against the government awards to five artists, whose work is criticized as the character of the same variety (uniform) that is decorative, and more devoted to the interests of 'consumer'. 
Movement of Black December is the beginning of the formation of a new art movement GSRB in 1975, GSRB have an understanding that art does not have to be categorized according to the level, there is a first-class art and art classes there under (amateur). GSRB rejects boundaries between fine art and art therapy, and all the phenomena of art including design were considered equal. Throughout his journey (1975-1979, 1987), the exponent GSRB graphic designer who also noted among other FX Harsono, Syahrinur Prinka (1947-2004), Wagiono Sunarto Sunarto Priyanto, Fat RJ (1955 to 2003), Harris and Oentarto Purnama. 

Graphic design organization in Indonesia, during the year 1970 which is fully sprung design company led by a graphic designer, but the difference at the time these agencies are focused on the design of non-ad and all located in Jakarta, the following are some of the design agency: 

Vision (Karnadi Mardio), graphic Grapos Indonesia (Wagiono Sunarto Sunarto Priyanto, S Prinka), Citra Indonesia (Tjahjono Abdi, Hanny Kardinata) and GUA Graphic (Gauri Nasution). And in the next decade, in Jakarta arise include Graphic Force (FX Harsono, Fat RJ), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan Ramelan Djodjo Widodo), Headline (Sita Subijakto), BD + A (Irvan Noe'man), and in Bandung: Zee Studio (Faith Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Graphics (Markoes Djajadiningrat), Studio "OK!" (Indarsjah Tirtawidjaja) and others.

No comments:

Post a Comment